SELAMAT DATANG DI PENDIDIKAN ALQUR'AN NURUL ASKAR

ASRAMA MATTOANGIN MAKASSAR

Minggu, 02 Mei 2010

FILSAFAT NILAI


Oleh : ABD. ROCHMAN

Pendahuluan

Setiap manusia tentu mengetahui beberapa hal dalam kehidupannya, dan dalam dirinya terdapat bermacam-macam pemikiran dan pengetahuan termasuk pengetahuan tentang hukum alam.

Pengetahuan hukum alam dianggap memiliki nilai kebenaran, jika pengetahuan itu dicapai dengan melalui praktek dan pengalaman, serta dapat menunjukkan realitas obyektif. Tak ada satupun di alam ini yang tidak diketahui. Akan tetapi alam mengandung sesuatu yang masih belum diketahui, dan akan terungkap serta akan diketahui lewat perantara metode ilmiah yang praktis.

Pengetahuan tersebut di atas, dikuatkan oleh filsafat marxisme yang percaya akan kemampuan pikiran manusia untuk mengungkapkan realitas obyektif. Namun demikian pernyataan tersebut disangkal oleh Kant dengan konsepnya bahwa sesuatu yang ada di dalam dirinya, tak terjangkau pengetahuan.

Untuk mengetahui apakah pengetahuan dalam filsafat marxisme memiliki nilai yang lebih tinggi dan watak yang lebih unggul dari pada pengetahuan dalam filsafat Kant, kaum idealis, dan materialis ?, Muhammad Baqir as-Shadr memberikan penjelasan-penjelasan yang dikaitkan dengan filsafat Islam tersebut di bawah.

II. Pandangan para Filsafat Yunani.

Pada abad ke 5 SM, terjadi perdebatan sengit yang menolak terhadap pemikiran yunani, oleh gelombang sofisme. Pada saat itu pandangan-pandangan filosofis dan asumsi-asumsi non-empirikal saling menghamtam satu sama lain, sementara pemikiran filosofis belum mencapai kematangan intelektual yang tinggi, sehingga terjadi kerancauan pemikiran dan kecemasan yang mendalam.

Tokoh yang menolak segala prinsip pemikiran manusia dan proposisi terinderai serta intuitif, antara lain adalah :

Georgias (483 –380 SM), Dia adalah filosof yunani, orator dan guru retorika. Lahir di Sicilia dan pindah ke Yunani. Dia sebagai tokoh Sofisme. Karya terkenalnya adalah “On Nature or the Non-Existent”. Disini Georgias berkata :

a. Tak ada yang maujud, jika ada tentu berasal dari ketiadaan atau dari sesuatu.

b. Jika ada sesuatu, tak mungkin dikenal, sebab pikiran dan segala sesuatu itu berbeda.

c. Kalau sesuatu dapat dikenal, tak mungkin dapat disampaikan, sebab niat dan pemahaman itu berbeda

Dari perdebatan itu muncul Socrates, Plato dan Aristoteles yang bersikap anti terhadap sofisme. Aristoteles menggariskan logika terkenalnya untuk menemukan kesalahan sofisme. Dia mengatakan bahwa pengetahuan inderawi dan pengetahuan rasional primer atau sekunder dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip logika, adalah realitas-realitas yang sangat bernilai.

Untuk menunjukkan dua orientasi yang saling bertentangan, yaitu orientasi sofisme dan logika Aristoteles, maka muncullah doktrin skeptisisme. Doktrin ini dipelopori oleh Pyrrho.

Pyrrho (360 – 270 SM) adalah filosof Yunani. Seorang skeptik yang berkata bahwa tidak mungkin mengetahui watak sesuatu. Setiap pernyataan mengandung dua kemungkinan yang sama kuat, positif atau negatip. Oleh karena itu penilaian tidak boleh dibuat. Karena penilaian tidak boleh dibuat, maka harus diam berkenaan dengan segala sesuatu. Ini membuat orang harus undur diri, dan hidup dalam ketenangan.

III Rene Descartes (1596 – 1650)

Ia adalah tokoh resionalis dan pelekat dasar kebangkitan filsafat di Eropa, pendapatnya bahwa karena gagasan-gagasan saling berlawanan, maka gagasan-gagasan itu merupakan ajang kesalahan, begitu juga persepsi inderawi saling menipu, jadi adanya keragu-raguan terhadap kebenarannya. Oleh karena itu ia memulai filsafatnya dengan badai skeptesisme. Namun demikian, ia mengecualikan satu kebenaran yang tidak digoncang badai skeptisisme, yaitu pikiran yang realitas aktual. Keraguan tidak akan mempengaruhinya, kecuali dengan memperkuat sta-bilitas dan kejelasan, jadi berpikir itu adalah suatu kebenaran yang pasti. Dia berusaha keluar dari konsepsi menuju eksistensi, dan dari segi subyektifitas ke obyektifitas, membuktikan eksistensi dirinya dengan realitas, dengan menyatukan “aku berfikir, maka aku ada”.

Pada saat pemaparan pikirannya dengan “aku berfikir, maka aku ada”, ia tak merasa perlu menerima bentuk-bentuk silogisme dalam logika, malah ia percaya bahwa pengetahuan mengenai eksistensi melalui pikirannya, merupakan masalah intuitif yang tak memerlukan penyusunan bentuk silogisme dan penerimaan akan premis-premis minor dan mayor, karena itu intuitip tidak diragukan lagi. Dengan demikian ia menambah proposisi yang lain pada proposisi intuitif yang pertama dan membenarkan bahwa sesuatu tidak mungkin ada, dari ketiadaan.

Descartes menyusun pemikiran manusia dalam tiga kelompok, yaitu :

Gagasan-gagasan instinktif atau fiksi yaitu gagasan-gagasan alami manusia yang tampak sangat jelas, seperti gagasan tentang Tuhan, gerak, perentangan dan jiwa.

Gagasan-gagasan samar, yaitu yang terjadi dalam pikiran karena adanya gerak yang datang pada indera dari luar, hal ini tidak mempunyai asas di dalam pikiran manusia.

Gagasan-Gagasan yang berbeda-beda, yaitu yang disusun manusia dari gagasan-gagasan mereka yang lain seperti gagasan bahwa seseorang manusia mempunyai dua kepala.

Selanjutnya ia memberikan penjelasan bahwa gagasan tentang Tuhan adalah gagasan yang mempunyai hakekat obyektif, karena setiap pikiran fitri di dalam alam manusia adalah pikiran yang benar dan mencerminkan suatu hakekat obyektif, pikiran-pikiran rasional pada kelompok pertama tersebut di atas, adalah berasal dari Tuhan. Oleh karena itu Descartes percaya kepada pikiran-pikiran fitri saja, bukan pikiran yang muncul karena sebab-sebab dari luar. Dengan demikian ia membagi pikiran tentang materi menjadi dua bagian, yaitu :

Pikiran-pikiran yang fitri, seperti gagasan tentang perentangan( ekstensi).

Pikiran-pikiran yang maujad (kemudian) yang mengekspresikan reaksi-reaksi tertentu dari jiwa, karena pengaruh-pengaruh luar, seperti gagasan tentang suara, bau, rasa panas, dan wawasan.

Bagian pertama adalah kualitas-kualitas pertama yang hakiki, dan bagian kedua adalah kualitas-kualitas kedua yang tidak mengekspresikan hakekat-hakekat obyektif, tetapi menunjukkan reaksi subyektif.

Muhammad Baqir As-Shadr memberikan komentar bahwa beberapa abad sebelum Descartes mengemukakan pemikirannya, Al-Syaikh Al-Rais Ibnu Sina mengemukakan bahwa manusia tidak dapat membuktikan eksistensinya melalui pikirannya, karena jika mengatakan “aku berpikir, maka aku ada”, maka ia hendak membuktikan eksistensinya melalui pikiran tertentu saja, dan ia sebenarnya telah membuktikan ekstensinya yang tertentu. dan juga yang dikehendakinya. Ini jelas salah, karena pikiran mutlak menetapkan eksistensi sang pemikir mutlak, bukan pemikir khusus. Selanjutnya Descartes menjelaskan bahwa pikiran-pikiran yang diciptakan Tuhan dalam diri manusia itu menunjukkan hakekat obyektif. Nah, jika pikiran-pikiran itu tidak benar, maka berarti Tuhan menipu, dan mustahil Tuhan menipu.

Akhirnya Muhammad Bagir as-Shadr memberikan suatu penilaian terhadap gagasan Descarter sebagai gagasan yang menunjukkan kerancuan

Bookmark this post:
StumpleUpon Ma.gnolia DiggIt! Del.icio.us Blinklist Yahoo Furl Technorati Simpy Spurl Reddit Google

 

Copyright 2009 All Rights Reserved Magazine 4 column themes by One 4 All