SELAMAT DATANG DI PENDIDIKAN ALQUR'AN NURUL ASKAR

ASRAMA MATTOANGIN MAKASSAR

Minggu, 02 Mei 2010

VARIABLE MOTIVASI BELAJAR


Oleh : Abd. Rochman

I. Landasan Teori
Frandsen (1957:219) berpendapat bahwa ‘motive as internal condition arouse sustain, direct and determine the intensity of learning effort, and also define the set satisfying or unsatisfying consequences of goal’.
Hilgard (1948:4) mengatakan bahwa ‘learning is the process by which an activity originates or is changed through responding to a situation, provided the changes can not be attributed to growth or the temporary state of the organism as in fatique or under drugs’
Dari definisi tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar adalah kondisi internal yang mendorong, mengarahkan dan menentukan intensitas usaha belajar, dan juga menggambarkan konsekwensi dari suatu tujuan belajar yang memuaskan atau tidak memuaskan. Belajar diartikan sebagai proses atau aktivitas untuk merubah dari suatu situasi tertentu ke dalam suatu pertumbuhan yang lebih baik.
Motivasi menunjukkan kepada sesuatu keadaan yang menyebabkan seseorang melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan tertentu. Perbuatan itu dilakukan karena menimbulkan kepuasan. Dorongan belajar itu timbul karena tertarik dengan pelajaran, pelajaran itu berguna bagi dirinya, usaha memperbaiki diri, ingin ikut dalam hal yang dipelajari (I.L. Pasaribu, 1983:75)
Ada 3(tiga) macam motive dalam diri manusia yaitu motive berprestasi, motive untuk berafiliasi, dan motive berkuasa (Adam Ibrahim Indrawijaya, 1986:82)
Konsep dasar yang berkaitan erat dengan motivasi adalah konsep sintalitas, konsep kebutuhan, dan konsep perangsang (Buchari Zainun, 1981:16). Konsep sintalitas berkaitan dengan pencapaian atau pemuasan tujuan, konsep kebutuhan menurut Maslow ada lima tingkatan, yaitu kebutuhan pisik, keamanan, sosial, penghargaan, dan kebutuhan aktualisasi diri. Sedang konsep perangsang berkaitan dengan dorongan dari luar, seperti orientasi tujuan, supervisi, partisipasi, komunikasi, rekognasi, delegasi, kompetisi, integrasi, dan motivasi silang.
Ngalim Purwanto (1990:65) membagi motive dalam dua bagian, yaitu motive intrinsik, dan motive ekstrinsik. Motive intrinsik timbul dari dalam diri seseorang tanpa paksaan dari luar, sedang motive ekstrinsik berasal dari luar sebagai rangsangan agar seseorang mau berbuat sesuai dengan kehendak pemberi motive.
Ada beberapa metode mengajar, agar siswa terdorong untuk belajar yaitu metode dialog, keteladanan, cerita, bujukan dan rayuan (Abdurrahman an Nahlawi, 1995:204)
B. Simanjutak (1983:56) mengatakan bahwa ada 8 (delapan) usaha untuk memperkuat motif belajar yaitu memperpadukan motif-motif kuat yang sudah ada, memperjelas tujuan yang hendak dicapai, merumuskan tujuan sementara, merangsang pencapaian kegiatan, membuat situasi persaingan, persaingan dengan diri sendiri, beritahukan hasil yang dicapai, beri contoh yang positip.
II Difinisi Konseptual
Berdasarkan landasan teori tersebut di atas, maka dapat didefinisikan secara konseptual bahwa motivasi belajar adalah dorongan baik dari dalam (intrinsik) maupun dari luar (ekstrinsik) yang menjadi pangkal seseorang untuk belajar. Dorongan tersebut meliputi kepuasan, kebutuhan, minat, pebaikan diri, orientasi tujuan, pengawasan, partisipasi, komunikasi, rekognasi, kompetisi, keteladanan, sanksi, tantangan baru, dan motivasi silang.
III Difinisi Operasional
Difinisi Operasional Motivasi Belajar adalah skor total yang diperoleh dari responden dengan mempergunakan instrumen skala motivasi belajar yang menggambarkan mengenai indikator kepuasan, kebutuhan, minat, pebaikan diri, orientasi tujuan, pengawasan, partisipasi, komunikasi, rekognasi, kompetisi, keteladanan, sanksi, tantangan baru, dan motivasi silang.
Bookmark this post:
StumpleUpon Ma.gnolia DiggIt! Del.icio.us Blinklist Yahoo Furl Technorati Simpy Spurl Reddit Google

 

Copyright 2009 All Rights Reserved Magazine 4 column themes by One 4 All