SELAMAT DATANG DI PENDIDIKAN ALQUR'AN NURUL ASKAR

ASRAMA MATTOANGIN MAKASSAR

Minggu, 02 Mei 2010

MENDIDIK MELALUI DIALOGIS


Oleh : Abdul Rochman

I. Pendahuluan
Dialog dapat diartikan sebagai pembicaraan antara dua pihak atau lebih yang dilakukan melalui tanya jawab dan di dalamnya terdapat kesatuan topik atau tujuan pembicaraan. Dengan demikian, dialog merupakan jembatan yang menghubungkan pemikiran seseorang dengan orang lain. Sebuah dialog akan melahirkan paling tidak dua kemungkinan, yaitu pertama kedua belah pihak terpuaskan dan kedua hanya pihak tertentu saja yang terpuaskan. Bagaimana pun hasilnya, dialog sangat menguntungkan orang ketiga, yaitu si penyimak. Lewat dialog, seorang penyimak yang betul-betul memperhatikan materi dialog akan memperoleh nilai lebih, baik berupa penambahan wawasan atau penegasan identitas diri. Keuntungan yang diperoleh siswa sangat berhubungan dengan karakteristik yang dimiliki dialog, yaitu:
Pertama, bisanya topik dialog tersaji secara dinamis karena kedua belah pihak “menarik dan mengulur” materi sehingga tidak membosankan. Bahkan, kondisi itu akan mendorong siswa mengikuti seluruh pembicaraan.
Kedua, lewat metode dialog, siswa akan tertuntut untuk mengikuti dialog hingga selesai agar dia dapat mengetahui kesimpulan apa yang dihasilkan dialog tersebut. Dan biasanya, keinginann untuk mengetahui kesimpulan merupakan penetral dari rasa bosan atau jenuh.
Ketiga, lewat dialog, perasaan dan emosi siswa akan terbangkitkan dan terarah sehingga idealismenya terbina dan pola pikirnya betul-betul merupakan pancaran jiwa.
Keempat, topik pembicaraan disajikan secara realistis dan manusiawi sehingga dapat menggiring manusia pada kehidupan dan perilaku yang lebih baik lagi. Proses seperti itu sangat menunjang terwujudnya tujuan pendidikan nasional.
II. Bentuk Dialog
Bentuk dialog sangat variatif, namun bentuk yang paling penting adalah dialog diskriptif, dialog naratif, dan dialog argumentatif.
Kejelasan tentang aspek-aspek dialog ditujukan agar setiap siswa dapat memetik manfaat dari setiap bentuk dialog tersebut dan dapat mengembangkan afeksi, penalaran, dan perilaku anak didik. Selain itu, seorang pendidik dapat memanfaatkan dialog untuk melengkapi metode pengajarannya.
1. Dialog Diskriptif
Dialog diskriptif disajikan dengan diskripsi atau gambaran mereka yang tengah berdialog. Pendiskripsian itu meliputi gambaran kondisi hidup dan psikologis mereka yang berdialog sehingga dapat dipahami kebaikan dan keburukannya. Selain itu, pendiskripsian berpengaruh juga pada mentalitas seseorang, sehingga perasaan dan perilaku positif akan berkembang.
2. Dialog Naratif
Dialog naratif tampil dalam episode kisah yang bentuk dan alur ceritanya jelas, sehingga menjadi bagian dari cara atau unsur cerita itu. Walaupun mengandung kisah yang disajikan dalam bentuk dialog, namun tidak dapat disamakan keberadaannya dengan bentuk drama yang sekarang ini muncul sebagai suatu jenis karya sastra, artinya tidak menyajikan unsur dramatik walaupun dalam penyajian kisahnya terdapat unsur dialog.
3. Dialog Argumentatif
Di dalam dialog argumentatif, akan menemukan diskusi dari perdebatan yang diarahkan pada pengokohan pendapat atas yang lainnya. Dialog argumentatif memiliki dampak edukatif antara lain adalah membina akal agar dapat berpikir sehat dan mencapai berbagai kebenaran melalui metode valid seperti penyimpulan hasil dialog, analogi yang sahih, berpikir yang topikal dan realistis serta penarikan argumentatif dari hal-hal yang kongkrit
Bookmark this post:
StumpleUpon Ma.gnolia DiggIt! Del.icio.us Blinklist Yahoo Furl Technorati Simpy Spurl Reddit Google

 

Copyright 2009 All Rights Reserved Magazine 4 column themes by One 4 All